‘Lek’ dalam bahasa jawa itu singkatan dari kata ‘PakLik’ yang singkatan juga dari kata ‘bapak cilik’ yah kalo diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia jadinya ‘Om’ atau ‘Paman’. Tapi kalau di kampung, panggilan ini tidak hanya berlaku untuk orang yang bener-bener ‘Om’ atau ‘Paman’ tapi lebih ke panggilan hormat kepada orang yang lebih tua dari kita tapi masih sepantaran dengan orang tua kita lah. Jadi kalau sedang di kampung, hampir orang tua sekampung itu jadi ‘Om’ hahahaha…
Nah cerita ini tentang Lek Kirno, tetangga depan rumah yang sudah bertahun-tahun tinggal sendirian di rumahnya. Given biasanya memanggilnya ‘Mbah No’ , beberapa anak muda di kampung memanggilnya dengan sebutan lain yang saya pikir kurang sopan untuk orang seusia dia.
Pernah suatu kali saya dan indra baru pulang dari boyolali malam-malam sekitar jam 11-an lah. Saya lihat ada kendaraan yang pastinya bukan milik keluarga terparkir di teras rumah. Saya tanya indra “Ninja punya siapa diparkir disini.?”. Indra spontan ketawa karena Ninja (refers to ‘Kawasaki Ninja’) yang saya maksud sebenarnya hanya sepeda onthel tua milik Lek Kirno yang diparkir di teras rumah kalau sudah malam. Yah, numpang garasi hahaha…

yang jelas bukan ini sepedanya..
Lek kirno ini rumahnya lumayan besar lah untuk ditinggali sendiri, seukuran 48M2 lah. Tapi saya tidak tahu kenapa kalau malam dia lebih memilih untuk tidur dibawah tiang listrik di dekat rumah. Biasanya dia gelar tikar disana sambil dengerin radio. Dan saya tidak perlu takut tidur kemaleman kalo sedang dirumah, soalnya sekitar jam 12 malam biasanya Lek Kirno akan membunyikan ‘alarm’ versi dia hahaha.. ya dia mukul-mukul tiang listrik itu dan dijadikan penanda kalau sudah tengah malam.
Dari tampilan luar Lek kirno ini terlihat biasa-biasa aja, bahkan cenderung tidak meyakinkan hehehe.. Tapi jangan salah, untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dia bekerja dengan menyewakan peralatan badminton di SD-SD sekitar kampung. Hari gini, anak-anak siapa yang lebih memilih untuk main badminton pas istirahat pelajaran dibandingkan dengan main PSP atau FB-an..? Jujur, kalau PBSI butuh seorang ikon buat program mereka, Lek Kirno ini bisa jadi kandidat yang kuat.
Selain itu, Lek Kirno juga jago main badminton. Bukan hanya jago-jagoan aja, bisa dibilang badminton itu jalan hidupnya. Selain dari penyewaan raket dan net, Lek Kirno hidup dari lomba-lomba badminton di sekitar kecamatan. Kadang dari taruhan orang-orang iseng yang punya duit dengan ngadain taruhan lomba badminton. Jadi, tampilan luar boleh tidak meyakinkan, tapi soal kemampuan masih bisa disetarain dengan Taufik Hidayat lah hahaha..
Anak tertua dari Lek Kirno sebenarnya sepantaran saya, dulu sekelas waktu SD. Tapi sewaktu kita sudah makin besar, makin jarang saya ketemu dia. Apalagi akhirnya kita sama-sama merantau. Saya sempat merantau ke Cikarang untuk beberapa tahun sebelum akhirnya ‘kapal’ saya terdampar lagi di Semarang hahaha.. Sedangkan dia, namanya Udin (bukan udin sedunia..!!), setelah menikah dia merantau ke Malaysia, di perkebunan kelapa sawit, dan istrinya ditinggal di tempat mertuanya di jawa timur.
Tapi kata pepatah ‘untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak’, di perkebunan Udin malah terkena musibah, dia kejatuhan kelapa sawit dan sempat harus koma beberapa bulan.
Benar-benar posisi yang sulit bagi keluarga. Untuk sekedar datang ke Malaysia agar bisa menengok Udin yang lagi sakit pun tidak memungkinkan bagi mereka. Untuk memulangkan Udin ke Indonesia agar bisa mereka rawat pun juga pilihan yang susah buat mereka, ketiadaan biaya buat mengirim Udin pulang ditambah lagi nanti di Indonesia bagaimana dengan urusan perawatan kesehatannya.
Setelah beberapa bulan koma di rumah sakit dengan biaya yang ditanggung perusahaan tempat dia bekerja, akhirnya Udin mulai sadar. Karena dianggap sudah tidak mampu bekerja, Akhirnya perusahaan memulangkan dia ke Indonesia. Tapi siapa yang dapat menolak rencana Tuhan..? beberapa saat di Indonesia Udin pun meninggal dunia..
Anak kedua Lek Kirno dulu juga teman sepermainan saya dulu. Tapi setelah besar dia ikut Ibunya yang pulang ke rumah orang tuanya. Tapi dalam setahun terakhir ini saya lihat dia kembali tinggal bersama Lek Kirno. Sepertinya tidak benar-benar tinggal bersama karena rumah itu disekat dua, Lek Kirno tinggal di bagian depan dan anaknya tinggal di bagian belakang. Kenapa harus seperti itu ? hmm.. saya tidak tahu…
Istri Lek Kirno.? Saya tidak tahu duduk masalahnya, namun sudah bertahun-tahun mereka pisah. Istri dan anak-anak Lek Kirno pulang ke rumah orang tua istri Lek Kirno di kampung yang lain. Jadi secara de facto, Lek Kirno benar-benar tinggal sendiri dirumahnya.
Lebaran tahun ini saya sempat berpikir, apa yang dilakukannya untuk mengisi lebaran. Malam takbiran saya lihat dia masih melakukan ritual rutinnya, tidur di bawah tiang listrik. Hari berikutnya dia tidak ikut larut dalam suasana lebaran malah asyik main layangan di halama depan rumahnya. Wow.. Lek Kirno Vs Kesendiriannya.. siapa yang akan menang..?